Keyakinan Hati

Kadang aku bertanya
Apakah bahagia akan datang ?

Kadang aku menolak
dengan semua takdir yang digariskan untukku

Tapi ada satu keyakinan
yang membuat aku  tegar dalam melangkah

Bahwa…
Tuhan akan memberiku
Pelangi di setiap badai
Senyum di setiap airmata
Berkat disetiap cobaan
Lagu indah disetiap helaian nafas
dan jawaban disetiap doa.

taken from http://katabijak.site40.net

Khusus Untuk Wanita

Kebiasaan Buruk Perusak Penampilan
Kamis, 22 Januari 2009 | 13:01 WIB

Penting, namun seringkali kita malas melakukannya. Berikut hal-hal sederhana yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan dan kecantikan.

1. Olahraga dengan make up lengkap
Memang sih, gym merupakan salah satu tempat berkumpulnya para pria, terutama sepulang kantor atau akhir pekan. Tapi, bukan berarti Anda harus tampil dengan riasan lengkap saat membakar kalori di sana. Pasalnya, make up yang Anda pakai akan menyumbat pori-pori dan membuat keringat tidak bisa keluar. Sayang, kan, kalau nantinya wajah Anda malah dihiasi komedo dan jerawat.

2. Malas bersihkan wajah
Bersihkan wajah Anda dari sisa-sisa kosmetik sebelum tidur. Untuk menjaga kelembabannya gunakan krim malam yang sesuai dengan jenis kulit untuk merawat kekenyalan kulit. Hindari pula menggunakan terlalu lama memakai baju yang basah oleh keringat agar terhidar dari jerawat di punggung atau leher.

3. Memakai hairdryer setiap hari
Anda mungkin tak akan melihat dampak langsung dari penggunaan hair dryer setiap hari. Namun, setiap kali Anda mengeringkan rambut dengan alat ini, sebenarnya Anda sedang merusak rambut Anda. Lambat laun rambut pun akan terlihat kusam dan mudah rontok.

4. Malas pakai pelembab
Pagi hari memang waktu tersibuk sepanjang hari. Tapi, jangan pernah melewatkan penggunaan moisturizer. Terutama untuk Anda yang setiap harinya bekerja di ruangan yang ber-AC.

5. Malas sikat gigi
Bila memiliki gigi yang putih, sehat, dan kuat, tak cukup membuat Anda lebih giat menyikat gigi, maka simaklah studi terbaru mengenai hubungan antara gigi dan penyakit jantung. Para ahli menyatakan, bakteri penyebab plak pada gigi adalah bakteri yang sama, yang menyebabkan plak pada jantung dan memicu serangan jantung.

6. Tak bisa lepas dari high heels
Bentuk dan hak sepatu yang salah bisa membuat kita menderita sakit punggung, kaki bengkak dan pegal. Idealnya, berat badan kita bisa dibagi rata pada permukaan telapak kaki. Karena itulah batasi penggunaan sepatu berhak tinggi. Pastikan pula ukuran sepatu atau kaus kaki Anda tidak terlalu pas atau terlalu kecil.

7. Obsesi kulit putih
Cermati kandungan produk pemutih yang akan digunakan karena kini banyak produk pemutih yang tidak terdaftar resmi dan mengandung merkuri atau hidroquinone. Produk pemutih seperti ini memang bisa memberikan hasil instan tetapi pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan endapan merkuri pada kulit yang bisa memicu timbulnya kanker.

8. Kurang menjaga kebersihan daerah intim
Kurang menjaga kebersihan daerah intim bisa memicu timbulnya jerawat. Jerawat di daerah selangkangan biasanya terjadi karena sumbatan kelenjar lemak di bawah kulit. Ini bisa terjadi bila Anda kurang menjaga kebersihan di daerah tersebut atau juga karena terjadi infeksi.

Untuk mencegah jerawat ini tidak sering muncul tentu dengan menjaga kebersihan dan kesehatan area tersebut. Gunakan sabun pembersih khusus daerah intim perempuan yang banyak dijual bebas. Namun, jika belum sembuh juga, sebaiknya konsultasikan dengan dokter kandungan.

Renungan hari ini

Melahirkan Setelah “Meninggal” Dua Hari

/

Rabu, 14 Januari 2009 | 08:26 WIB

LONDON, SELASA — Kejadian ini menggegerkan dunia kedokteran. Seorang ibu yang dipastikan tak mungkin bertahan hidup ternyata masih bisa melahirkan bayi mungil dengan sempurna. Berita ini menjadi bahan perbincangan di dunia medis.

Mahmoud Soliman (29) tak pernah membayangkan bisa menghadapi kesedihan dan kebahagiaan menjadi satu. Istri yang dicintainya, Jayne Soliman (41), pergi untuk selama-lamanya. Dan sebagai gantinya, ia mendapatkan seorang bayi perempuan cantik yang dilahirkan dari rahim istrinya.

Yang mengharukan, Aya Jayne, demikian nama bayi tersebut, dilahirkan dua hari setelah Jayne dinyatakan tak bisa bertahan hidup akibat otaknya tidak bisa berfungsi lagi. Berkat bantuan medis Aya bisa dilahirkan dengan selamat.

Sebenarnya kehamilan Jayne tidak bermasalah. Namun, pada usia kehamilannya yang mencapai 25 minggu, tiba-tiba ia pingsan setelah mengeluh sakit kepala. Segera saja Mahmoud melarikannya ke Rumah Sakit John Radcliffe Hospital di Oxford. Namun, beberapa jam kemudian tim dokter menyatakan otak mantan atlet ski es nasional Inggris ini sudah mati.

Tim dokter mencoba membantu jantung Jayne agar tetap berdenyut dengan beragam peralatan. Upaya ini dilakukan agar bayi yang berada di perut Jayne bisa tertolong. Jayne diberi dua dosis besar steroid sehingga jantung bayinya bisa berkembang. Dan akhirnya, Aya Jayne pun bisa lahir dengan selamat melalui operasi cesar.

Usai diangkat dari rahim Jayne, Aya sempat diletakkan di pundak ibunya untuk memberi sedikit waktu bagi keduanya bertemu. Setelah itu Aya langsung dilarikan ke unit perawatan intensif, sedangkan Mahmoud diberi kesempatan untuk mengucapkan selamat jalan kepada istrinya, sebelum akhirnya dokter mematikan peralatan penunjang hidupnya.

“Dokter mengatakan, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk Jayne. Namun, mereka membutuhkannya untuk tetap kuat bagi anak kami yang belum dilahirkan,” kenang Mahmoud.

“Dia sangat mungil, ia pejuang kecil seperti ibunya,” tutur Mahmoud yang tak henti-hentinya menitikkan air mata saat menggendong putrinya.

Kata Aya berasal dari bahasa Arab yang berarti keajaiban. Itu merupakan nama yang dipilih Jayne saat masih hidup.

“Saat Aya dewasa, akan saya katakan betapa ibunya mencintainya. Akan saya ceritakan semuanya. Ini merupakan keinginan Jayne untuk memiliki bayi dan menjadi ibu yang baik,” ujar Mahmoud.

Jayne merupakan juara ski es Inggris tahun 1989 dan menduduki peringkat ketujuh di dunia.

Ia pernah mengikuti beragam kompetisi internasional sebelum akhirnya menjadi atlet ski profesional. Beberapa tahun terakhir ia menjadi pelatih tamu di Dubai dan di sinilah ia bertemu dengan Mahmoud yang bekerja sebagai IT.

Dua tahun silam ia kembali ke Inggris dengan kehidupan barunya dan menempati rumah di Bracknell, Berks. Jayne yang memiliki nama asli Jayne Campbell ini kemudian bekerja di Bracknell Ice Skating Club.

 

Memperbaiki Kesalahan

Nobody’s perfect, termasuk dalam melakukan pekerjaannya. Kesalahan dalam bekerja, entah itu kehilangan arsip laporan, tak bisa memenuhi deadline, atau salah mengirim e-mail berisi curhatan pribadi kepada bos, bisa merusak profesionalisme kita. Tapi, tak perlu panik berkepanjangan bila Anda baru saja membuat kesalahan. Simak tips dari Andrea Kay, penulis buku Work’s a Bitch and Then You Make It Work, berikut ini:

Tarik napas
Begitu Anda sadar baru saja membuat suatu kesalahan, mundurlah sejenak dari situasi tersebut. Tarik napas dalam-dalam dan ambil break. “Rasa takut dan emosi bisa memengaruhi tindakan dan memperburuk situasi,” kata Kay.

Hadapi
Jangan berharap si bos tak mengetahui kesalahan yang Anda buat. Segeralah minta maaf dan sampaikan Anda akan menghindari kesalahan serupa di kemudian hari.

Cari solusi
Bila kesalahan yang terjadi berskala besar, seperti laporan bujet yang salah, atau berdampak pada orang lain, galilah beberapa alternatif ide untuk mengoreksi kesalahan. Lalu, sampaikan lewat memo pada atasan atau sampaikan dalam rapat. Meski pada akhirnya atasan yang akan memegang kendali keputusan, paling tidak Anda sudah menunjukkan inisiatif dengan cara menawarkan solusi, daripada malah bersembunyi.

Maju terus
“Cara terbaik untuk memperbaiki kesalahan adalah melanjutkannya dengan performa yang lebih baik,” kata Kay. Kembalikan kepercayaan dari atasan dan rekan-rekan kerja dengan menunjukkan pada mereka hasil kerja yang memuaskan. Suka atau tidak, semua perhatian kini tertuju pada Anda, jadi gunakan kesempatan ini untuk menunjukkan kinerja terbaik Anda.

Untuk Wanita

Mendambakan bentuk tubuh lebih langsing di tahun ini? Simak 9 cara berikut ini dan jangan lupa disiplin melakukannya.

1. Kurangi karbohidrat
Tak perlu menghilangkan daftar makanan berkarbohidrat dari menu sehari-hari Anda. Tapi pilihlah yang kandungannya paling minim, seperti kentang dari nasi. Atau pasta yang terbuat dari kacang-kacangan bukan dari gandum.

2. Sup sebagai snack
Jadikan sup, terutama yang mengandung banyak sayuran, sebagai pengganti snack. Penelitian di Pennsylvania State University membuktikan, sup sayuran lebih ampuh mengurangi berat badan daripada low fat snack.

3. Bersahabat dengan lemak
Menurut ahli nutrisi, Fiona Kirk, menyantap lemak tak jenuh 20 menit sebelum makan membuat otak berpikir bahwa Anda sudah kenyang sehingga Anda tidak ingin makan banyak saat jam makan.

4. Semprot minyak
Saat memasak, jangan menuang minyak sayur. Sebaiknya semprotkan saja minyak ke dalam wajan menggunakan oil spray. Cara ini dapat mengurangi kandungan lemak pada masakan. Lebih baik lagi menggunakan olive oil daripada minyak sayur.

5. 24 hours detoxMau detoks alami secara cepat? Coba cara yang disarankan Theresa Cheung dalam bukunya The Lemon Juice Diet. Minum empat gelas lemonade sehari, yaitu minuman yang terbuat dari 2 sendok teh air perasan jeruk, sejumput chayenne pepper (banyak dijual di supermarket), 300 ml air putih, dan 2 sendok teh sirup apel. Diminum 30 menit sebelum sarapan, 10 menit sebelum snack pagi, 10 menit sebelum snack sore, dan 10 menit sebelum makan malam. Kalau perlu, bawa minuman ini ke kantor.

6. Green foodPerbanyak menyantap makanan hijau alias sayur dan buah-buahan. Bahkan, minum pula jus yang terbuat dari sayuran. Makanan ini hanya mengandung maksimal 54 kalori per porsi.

7. Minum probiotik
Bakteri baik sangat dibutuhkan tubuh untuk meningkatkan imunitas tubuh. Maka itu, sebaiknya banyaklah mengonsumsi minuman probiotik yang dijual bebas. Kalau perlu, mengonsumsi pil probiotik yang dijual tanpa resep dokter.

8. Hindari pemanis buatan
Banyak orang menghindari gula dengan alasan diet. Untuk mengatasi kebutuhan akan rasa manis, gula diganti pemanis buatan. Padahal, menurut para ahli, minuman diet dan pemanis buatan justru akan membuat tubuh mendambakan gula asli. Maka itu, lebih baik menggunakan gula asli, tapi jumlahnya dikurangi.

9. Makan pepaya
Kandungan digistive enzymes (enzim pencerna makanan) buah yang satu ini lebih tinggi dibanding buah lain. Enzim ini membantu mengurangi perut kembung dan mengeluarkan lemak dari tubuh. Jadi mulailah perbanyak makan pepaya.

Untuk Ibu, Aku merindukanmu ….

Apa yang bisa aku sampaikan

Tak terlukis semua bukti kasihmu, Ibu

 

Disaat sedihku, dengan setia engkau menemani,

Disaat dukaku, dengan penuh kesabaran engkau mendekati

Didadamu, sering kutumpahkan tangisku

 

Bahwa tak satupun balas yang engkau harapkan sebagai ganti

Semua engkau lakukan hanya dengan cinta, dan cinta

 

Dulu, sewaktu kecilku, pernah kubertanya

Apa yang ibu inginkan untuk masa depanku?

Dengan penuh kearifan ibu menjawab

‘ibu hanya inginkan engkau bahagia anakku,

Karena bahagiamu adalah bahagia ibu,

Dukamu adalah tangis ibu..

Setiap doa Ibu hanya untuk kebahagiaanmu …’

 

Terngiang kembali lagu masa kecilku

‘Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa’

‘Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia’

 

Aku mencintaimu ibu…

Aku memujamu, ibu..

Bagiku engkau adalah pahlawan sejatiku ….

Untuk Buah hati, Cahaya Jiwaku

Dalam kau terbuai di alam mimpi

Tenang

Mempesona…aku terpaku

Harum nafasmu memburai sebarkan damai dalam kelam kelabu

Akankah kau kabarkan pada samudra cintamu

Bahwa aku penghuninya selamanya?

Akankah kau kabarkan pada embun pagi

Bahwa aku pembuka hari-harimu?

Akankah kau kabarkan pada awan cerah bergulung bersama pijar mentari

Bahwa aku penaung sejati?

Akankah kau kabarkan pada rembulan

Bahwa hadirku disisimu kesempurnaan hidupmu?

Tidak sayangku…

Tak perlu kau kabarkan semua

Kelak cukup kabarkan pada sang AGUNG

Tuk saksikan bahwa hanya aku,

Hanya aku yang kau puja…

(untuk buah hatiku..)

taken from www.puisi.org/tags

Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?

Seorang anak mengeluh pada ayahnya tentang hidupnya yang sulit. Ia tidak tahu lagi harus berbuat apa dan ingin menyerah saja. Ia lelah berjuang. Setiap saat satu persoalan terpecahkan, persoalan yang lain muncul. Ayahnya, seorang juru masak, tersenyum dan membawa anak Perempuannya ke dapur. Ia lalu mengambil tiga buah panci, mengisinya masing-masing dengan air dan meletakkannya pada kompor yang menyala. Beberapa saat kemudian air dalam panci-panci itu mendidih. Pada panci pertama, ia memasukkan wortel. Lalu, pada panci kedua ia memasukkan telur. Dan, pada panci ketiga ia memasukkan beberapa biji kopi tumbuk.Ia membiarkan masing-masing mendidih Selama itu ia terdiam seribu basa. Sang anak menggereget gigi, tak Sabar menunggu dan heran dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Dua puluh menit kemudian, sang ayah mematikan api. Lalu menyiduk wortel dari dalam panci dan meletakkanya pada sebuah piring. Kemudian ia mengambil telur dan meletakkanya pada piring yang sama. Terakhir ia menyaring kopi yang diletakkan pada piring itu juga. Ia lalu menoleh pada anaknya dan bertanya, “Apa yang kau lihat, nak?” “Wortel, telur, dan kopi, ” jawab sang anak. Ia membimbing anaknya mendekat dan memintanya untuk memegang wortel. Anak itu melakukan apa yang diminta dan mengatakan bahwa wortel itu terasa lunak. Kemudian sang ayah meminta anaknya memecah telur. Setelah telur itu dipecah dan dikupas, sang anak mengatakan bahwa telur rebus itu kini terasa keras. Sang anak tersenyum saat mencicipi aroma kopi yang sedap itu. “Apa maksud semua ini, ayah?” tanya sang anak. Sang ayah menjelaskan bahwa setiap benda tadi telah mengalami hal yang sama, yaitu direbus dalam air mendidih, tetapi selepas perebusan itu mereka berubah menjadi sesuatu yang berbeda-beda. Wortel yang semula kuat dan keras, setelah direbus dalam air mendidih, berubah menjadi lunak dan lemah. Sedangkan telur, sebaliknya, yang semula mudah pecah, kini setelah direbus menjadi keras dan kokoh. Sedangkan biji kopi tumbuK berubah menjadi sangat unik. Biji kopi, setelah direbus, malah mengubah air yang merebusnya itu. “Maka, yang manakah dirimu?” tanya sang ayah pada anaknya. “Di saat kesulitan menghadang langkahmu, perubahan apa yang terjadi pada dirimu? Apakah kau menjadi sebatang wortel, sebutir telur atau biji kopi?”

Sudahlah kita mencintai ibu kita?

Bahwa sesungguhnya, Allah sangat murka kepada mereka yang menyia-nyiakan ibu mereka. Cerita ini sebagai perenungan, sudahkah kita mencintai ibu kita, selagi beliau masih ada?

Ada sebuah kisah dari negeri seberang. Seorang ibu tua yang tinggal di kampung memiliki seorang anak pria yang hidup sukses di kota. Anak tersebut menikah dengan seorang wanita karir dan dikarunia seorang anak yang pintar.

Merasa kesepian, sang ibu yang tinggal di kampung berkirim surat kepada anaknya bahwa dua minggu lagi ia akan pergi ke kota menjumpai anak cucunya dan tinggal di sana demi mengusir rasa kesepian.

Saat menerima surat dari ibunya, sang anak berurun-rembug dengan istrinya tentang bagaimana menyikapi kehadiran sang ibu di tengah mereka. Sang istri menukas, “Mas, engkau bekerja seharian penuh hingga larut malam, demikian pula aku. Aku akan merasa risih bila ibumu tinggal di rumah ini sebab ia akan mencibirku dan mengatakan bahwa aku adalah ibu yang tidak pandai mengurus anak sendiri.”

Sang istri melanjutkan, “Aku pun tak tega bila menyuruhmu untuk menaruh beliau di panti jompo. Nah…, bagaimana kalau kita buatkan saja sebuah saung dari bambu di halaman belakang rumah. Lalu kita tempatkan ibumu di sana. Ia akan bebas melakukan apa saja. Sementara kita dengan kesibukan yang ada tidak akan pernah merasa terusik.”

Sang suami mengangguk tanda setuju atas usul istrinya. Maka dibuatkanlah sebuah saung bambu di belakang rumah untuk sang ibu. Begitu ibunya datang, anak dan menantu tersebut menerimanya dengan penuh kehangatan, namun sayang mereka menempatkan sang ibu di saung bambu di halaman belakang rumah.
Ibu yang datang ke kota demi mengusir kesepian di desa, malah merasa terisolasi di tengah anak cucunya sendiri.

“Ma…, jangan lupa untuk mengirimkan makan 3 kali sehari untuk ibuku ya!” itulah kalimat yang diucapkan sang suami kepada istrinya setiap kali ia hendak berangkat bekerja. Sang istri pun lalu menyampaikan lagi pesan ini kepada pembantunya untuk melakukan hal yang diminta suaminya. Maka, 3 kali sehari makanan diantar oleh pembantu kepada nenek yang berada di dalam saung.

Namun karena kesibukan mereka berdua, rupanya keduanya kerap alpa untuk mengingatkan pembantu demi mengantarkan makanan kepada nenek.
Tadinya 3 kali sehari, terkadang hanya 2 kali atau 1 kali. Setelah berbulan-bulan tinggal di dalam  saung, maka pesan untuk mengirimkan makanan sudah tidak mereka ingat lagi. Maka pembantu pun sungguh lalai untuk mengirimkan makanan.

Allah Swt sungguh murka terhadap anak yang melalaikan hidup orang tuanya!
Piring kotor masih teronggok di pinggir saung. Sudah lama tidak diambil oleh pembantu yang biasa mengantarnya. Karena cahaya yang redup didalam saung, sang nenek tanpa sengaja menginjak piring itu hingga akhirnya pecah.
Tidak ada lagi makanan yang dikirimkan oleh anaknya. Nenek itu lapar. Hingga membuatnya harus pergi ke warung untuk beli makanan demi sekedar pengganjal lapar. Makanan telah terbeli, lalu dengan apa ia harus meletakkan, sebab tiada lagi alas.

Lalu sang nenek pergi mencari alas untuk makanannya. Tiada yang ia temui selain sebuah batok kelapa. Ia cuci dan bersihkan batok tersebut. Usai dibersihkan, maka batok itu menjadi teman setia nenek untuk makan. Demikianlah kebiasaan makan yang dilakukan nenek. Hingga suatu hari Allah berkenan untuk memberlakukan kehendaknya!!
Di suatu pagi, lepas dari pengawasan baby-sitter, seorang bocah lelaki berusia sekitar 5 tahun pergi ke halaman belakang. Sudah lama rupanya ia tidak bermain ke halaman tersebut. Bocah itu bengong, terperangah… saat ia melihat ada sebuah saung bambu di sana. Anak itu pergi menghampiri. Ia dorong pintunya hingga terbukalah. Anak tersebut memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ia pun masuk ke dalamnya….

“Eh…. ada pangeran kecil rupanya!” suara nenek terdengar mengguratkan senyum di bibir. “Nenek ini siapa?” tanya sang bocah polos. “Aku ini adalah nenekmu. Ibu dari ayahmu!” nenek itu mencoba menjelaskan. Beberapa saat kemudian, keduanya sudah menjalin kehangatan. Kehangatan tali persaudaraan. Persaudaraan antara seorang nenek dengan cucunya, yang tidak dipisahkan oleh jarak apapun. Keduanya membaur tak ubahnya darah & daging.

Sejak itu, sang bocah sering mengunjungi neneknya meski kedua orang tuanya tak tahu apa yang dilakukan anaknya selama ini. Hingga terbitlah sebuah pertanyaan kecil dari mulut si bocah saat ia melihat sebuah benda aneh di pojok saung.

“Itu benda apa, Nek?” si cucu menunjuk ke sebuah benda dengan perasaan ingin tahu. Si nenek melempar pandangan ke arah yang ditunjuk cucunya. Sejurus ia tahu bahwa yang dimaksud cucunya adalah sebuah batok kelapa. “Oh… itu adalah piring nenek. Tempat makan nenek. Lucu ya…?!” Nenek menjawab dengan wajah tersenyum. “Iya, nek. Ini bagus sekali” sambut sang cucu. Sang cucu merekam kejadian itu.

Dalam sebuah liburan akhir pekan, bocah ini diajak tamasya ke luar kota oleh papa dan mama. Mereka pergi membawa mobil ke tempat wisata. Sesampainya di sebuah taman wisata yang begitu rimbun, teduh dan indah mereka pun berbagi tawa dan kebahagiaan. Mereka berlari, berkejaran, berjalan dan melompat. Hari itu penuh keceriaan bagi mereka bertiga.

“Haaaap!” sang papa melompat sambil berteriak. Diikuti suara dan lompatan yang sama dari sang mama. Rupanya keduanya telah melompat melintasi bibir selokan kecil di sana. “Ayo nak… lompati selokan  itu. Kamu pasti bisa!” teriak keduanya berseru kepada anak mereka.

Sang anak berdiri terdiam di seberang. Ia melemparkan pandangan ke dalam selokan. Ia tak mau melompat, namun malah berujar, “Pa… Ma…, tolong ambilkan benda itu dong!” Papa melihat ke arah benda yang ditunjuk anaknya, ia tahu benda yang dimaksud adalah ‘batok kelapa’ dalam selokan. “Apa sih, nak? Nggak usah diambil… Itu kotor!” kata si papa. Sang mama menimpali dengan kalimat serupa.

Namun si anak tetap berkeras, merengek dan mengancam bahwa dirinya tidak mau meneruskan tamasya bila mama atau papanya tidak mau mengambilkan benda tersebut.
Keduanya mengalah. Diangkatlah ‘batok kelapa’ yang telah membau dari selokan. Keduanya repot mencari keran air untuk mencucinya. Setelah agak bersih, batok itu pun diberikan kepada sang anak. Keduanya merasa heran melihat sang anak begitu hangat memeluk batok kelapa tersebut.

Dalam perjalanan kembali ke rumah. Ketiganya masih berada di dalam mobil. Tak sabar dan penuh rasa ingin tahu, sang mama bertanya kepada anaknya, “Mama jadi bingung sama kamu… sebenarnya untuk apa sih batok kelapa itu, nak…?!” si anak masih memeluk batok itu. Ia angkat kepalanya lalu berkata, “Aku mau kasih kejutan ke mama!”

Dengan kepolosannya ia melanjutkan, “Kalau sampai di rumah, benda ini akan aku cuci sampai bersih. Setelah itu akan aku beri bungkus yang rapih. Bila sudah rapih, aku akan berikan ini untuk mama sebagai alas untuk makan.”

“Untuk makan…?!” mama bertanya keheranan dengan rasa jijik. “Iya…, untuk makan. Aku lihat nenek di saung belakang rumah makan dengan ini. Papa dan mama yang berikan itu untuk nenek kan?” tanyanya polos.

Keduanya bergidik. Allah Swt sungguh telah menegur mereka berdua lewat lidah anak mereka sendiri. Selama ini, sungguh mereka telah menyia-nyiakan orang tua sendiri. Hingga harus makan dengan alas dari sesuatu yang menjijikan bagi mereka, yaitu batok kelapa.

Apakah anda masih menyia-nyiakan hidup orang tua?!(

Belajar Mengendalikan Amarah

Sifat marah adalah luapan kekecewaan, kekesalan dan kebencian yang kemudian ditumpahkan dengan perasaan, ekspresi wajah, gerak tubuh, kata-kata dan tindakan. Terjadinya sifat marah dapat diakibatkan sakit hati, kekesalan dan rasa kecewa. Manusia wajar mempunyai sifat marah, hanya saja, sifat tersebut harus bisa dikendalikan dengan baik. Banyak sekali contoh kejadian karena manusia tak dapat mengendalikan sifat marahnya. So, marilah belajar mengendalikan amarah, beberapa tips menurut Rasulullah dalam mengendalikan amarah :

Kalau kita sedang berdiri lalu marah, cobalah duduk untuk mengurangi marah.
Kalau kita sudah duduk masih marah juga, cobalah berbaring.
Kalau sudah berbaring, masih marah juga, maka cobalah berwudhu.
Kalau setelah berwudhu masih marah juga, maka kita dianjurkan untuk sholat sunnat mutlak, yang disertai doa agar Allah menurunkan amarah.

Mari mengendalikan amarah, terutama di bulan penuh berkah ini.